Rabu, 05 Desember 2012

BERANTAS KEMISKINAN

Setiap menjelang hari raya lebaran banyak media memberitakan informasi tentang pembagian zakat dan sedekah untuk fakir miskin yang dilakukan oleh para dermawan beberapa tahun belakangan ini. Yang menjadi sorotan dalam berita itu bukan pembagian zakatnya, tapi kericuhan yang terjadi, bahkan sampai menimbulkan korban jiwa. Maksud hati sang pemberi zakat ingin berderma, malah akhirnya berujung penjara karena dianggap lalai dalam membagikan zakat atau sedekahnya.
Pembagian zakat seperti ini bukan hanya terjadi di kota-kota besar, di kota kecil tempat tinggal saya saja, tiga hari menjelang lebaran banyak orang-orang yang tidak dikenal datang ke rumah-rumah penduduk untuk minta zakat. Umumnya mereka datang dari pelosok desa, entah mereka itu miskin benaran atau miskin pura-pura, mungkin hanya tuhan yang tahu. Sangat memprihatinkan memang melihat nasib anak bangsa ini, ketika menjelang lebaran banyak yang mengaku miskin. Saya pun tak tahu kenapa banyak yang tidak malu lagi mengaku miskin dan minta sedekah, padahal dalam agama diajarkan bahwa tangan diatas lebih baik daripada tangan di bawah.
Yang memprihatinkan lagi zaman sekarang, anak-anak dibawah umur pun dimanfaatkan jadi pengemis di perempatan jalan atau di pasar bahkan bayi pun disewakan untuk menarik simpati masyarakat. kemanakah orang tua mereka yang seharusnya mendidik dan mengasuh mereka? Ataukah ini karena sifat pemalas orang tua yang tidak bertanggung jawab? Bikin anak saja yang pandai, tapi memelihara tidak mau. Alangkah terkutuknya mereka yang memanfaatkan anak kecil untuk kepentingan pribadi dan memperkaya diri dengan mengabaikan hak-hak anak yang sepatutnya harus dilindungi. Sedemikian parahkah kemiskinan di negara ini sehingga banyak orang yang tidak malu lagi menjadi peminta-minta.
Sejauh manakah tanggung jawab negara terhadap fakir miskin dan anak-anak terlantar ini sesuai dengan ayat 1 pasal 34 UUD 1945 yang bunyinya, “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara.” Semakin hari kian banyak saja pengemis dan anak jalanan dijumpai di tengah masyarakat. Apakah pemerintah telah salah kaprah menafsirkan ayat ini sehingga kata “dipelihara” dalam ayat ini berubah makna sebagaimana ternak yang dipelihara sehingga berkembang biak jadi banyak? Mungkin saja bagi mereka yang di gedung parlemen Senayan, kalau fakir miskin dan anak-anak terlantar berkembang biak berarti kemiskinan makin bertambah. Kalau kemiskinan bertambah berarti rakyat bisa dibodohi tiap lima tahun sekali dong. Lihatlah hasilnya sekarang, bukannya memperjuangkan nasib rakyat yang masih banyak yang bergelut dengan kemiskinan dan mencari pekerjaan yang layak, para wakil rakyat yang terhormat katanya itu malah sibuk memperjuangkan dana aspirasi, rumah aspirasi, spa dan kolam renang.
Kemiskinan seringkali terpaksa membuat orang berhutang untuk menutupi kekurangan biaya hidupnya. Kalau berhutang tersebut menjadi kebiasaan rakyat akan menyulitkan jika tidak mampu membayarnya kemudian nanti. Saya sering geleng-geleng kepala mendengarkan jawaban orang yang suka berhutang di warung ketika dinasehati pemilik warung, katanya “Sedangkan negara saja berhutang, saya kenapa tidak boleh.” Saya pun jadi ingat komentar beberapa orang pakar politik waktu pemilihan presiden setahun yang lalu yang mengatakan bahwa, pemimpin yang terpilih adalah cerminan rakyat yang memilihnya. Jadi kita tidak heran kalau mayoritas pemilihnya suka berhutang dan mengemis, maka pemimpin yang terpilih sifatnya nggak jauh-jauh beda dengan pemilihnya. Kalau nggak enak dibilang mengemis sekurang-kurangnya meminta-minta tambahan hutang kepada negara donor lah setiap melakukan kunjungan luar negeri. Apakah kita nggak malu dibilang republik pengemis?
Bagi orang-orang yang masih peduli dengan negara ini mari sama-sama kita berantas kemiskinan dan kebodohan dengan memberikan pencerahan mulai dari warga di lingkungan tempat tinggal kita untuk hidup mandiri, berdikari dan tidak bergantung kepada orang lain. Mari kita tanamkan sifat malu mengemis dan terlalu bergantung kepada orang lain. Lebih baik hidup sederhana dengan hasil keringat sendiri, daripada bergaya hidup mewah tapi semua itu hasil ngutang, apa nggak malu tuh para pejabat yang suka hidup bermewah-mewah dari hasil hutang luar negeri? Kalau seandainya nanti pemerintah tidak mampu membayar hutang, mungkin saja kekayaan alam negara ini akan tergadai kepada pihak asing dan kita pun akan jadi republik pengemis yang tetap bergantung pada bantuan negara lain karena keteledoran pemimpin kita di masa lalu.

Tidak ada komentar: