Pembagian
zakat seperti ini bukan hanya terjadi di kota-kota besar, di kota kecil
tempat tinggal saya saja, tiga hari menjelang lebaran banyak orang-orang
yang tidak dikenal datang ke rumah-rumah penduduk untuk minta zakat.
Umumnya mereka datang dari pelosok desa, entah mereka itu miskin benaran
atau miskin pura-pura, mungkin hanya tuhan yang tahu. Sangat
memprihatinkan memang melihat nasib anak bangsa ini, ketika menjelang
lebaran banyak yang mengaku miskin. Saya pun tak tahu kenapa banyak yang
tidak malu lagi mengaku miskin dan minta sedekah, padahal dalam agama
diajarkan bahwa tangan diatas lebih baik daripada tangan di bawah.
Yang
memprihatinkan lagi zaman sekarang, anak-anak dibawah umur pun
dimanfaatkan jadi pengemis di perempatan jalan atau di pasar bahkan bayi
pun disewakan untuk menarik simpati masyarakat. kemanakah orang tua
mereka yang seharusnya mendidik dan mengasuh mereka? Ataukah ini karena
sifat pemalas orang tua yang tidak bertanggung jawab? Bikin anak saja
yang pandai, tapi memelihara tidak mau. Alangkah terkutuknya mereka yang
memanfaatkan anak kecil untuk kepentingan pribadi dan memperkaya diri
dengan mengabaikan hak-hak anak yang sepatutnya harus dilindungi.
Sedemikian parahkah kemiskinan di negara ini sehingga banyak orang yang
tidak malu lagi menjadi peminta-minta.
Sejauh
manakah tanggung jawab negara terhadap fakir miskin dan anak-anak
terlantar ini sesuai dengan ayat 1 pasal 34 UUD 1945 yang bunyinya,
“Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara.” Semakin
hari kian banyak saja pengemis dan anak jalanan dijumpai di tengah
masyarakat. Apakah pemerintah telah salah kaprah menafsirkan ayat ini
sehingga kata “dipelihara” dalam ayat ini berubah makna sebagaimana
ternak yang dipelihara sehingga berkembang biak jadi banyak? Mungkin
saja bagi mereka yang di gedung parlemen Senayan, kalau fakir miskin dan
anak-anak terlantar berkembang biak berarti kemiskinan makin bertambah.
Kalau kemiskinan bertambah berarti rakyat bisa dibodohi tiap lima tahun
sekali dong. Lihatlah hasilnya sekarang, bukannya memperjuangkan nasib
rakyat yang masih banyak yang bergelut dengan kemiskinan dan mencari
pekerjaan yang layak, para wakil rakyat yang terhormat katanya itu malah
sibuk memperjuangkan dana aspirasi, rumah aspirasi, spa dan kolam
renang.
Kemiskinan
seringkali terpaksa membuat orang berhutang untuk menutupi kekurangan
biaya hidupnya. Kalau berhutang tersebut menjadi kebiasaan rakyat akan
menyulitkan jika tidak mampu membayarnya kemudian nanti. Saya sering
geleng-geleng kepala mendengarkan jawaban orang yang suka berhutang di
warung ketika dinasehati pemilik warung, katanya “Sedangkan negara saja
berhutang, saya kenapa tidak boleh.” Saya pun jadi ingat komentar
beberapa orang pakar politik waktu pemilihan presiden setahun yang lalu
yang mengatakan bahwa, pemimpin yang terpilih adalah cerminan rakyat
yang memilihnya. Jadi kita tidak heran kalau mayoritas pemilihnya suka
berhutang dan mengemis, maka pemimpin yang terpilih sifatnya nggak
jauh-jauh beda dengan pemilihnya. Kalau nggak enak dibilang mengemis
sekurang-kurangnya meminta-minta tambahan hutang kepada negara donor lah
setiap melakukan kunjungan luar negeri. Apakah kita nggak malu dibilang
republik pengemis?
Bagi
orang-orang yang masih peduli dengan negara ini mari sama-sama kita
berantas kemiskinan dan kebodohan dengan memberikan pencerahan mulai
dari warga di lingkungan tempat tinggal kita untuk hidup mandiri,
berdikari dan tidak bergantung kepada orang lain. Mari kita tanamkan
sifat malu mengemis dan terlalu bergantung kepada orang lain. Lebih baik
hidup sederhana dengan hasil keringat sendiri, daripada bergaya hidup
mewah tapi semua itu hasil ngutang, apa nggak malu tuh para pejabat yang
suka hidup bermewah-mewah dari hasil hutang luar negeri? Kalau
seandainya nanti pemerintah tidak mampu membayar hutang, mungkin saja
kekayaan alam negara ini akan tergadai kepada pihak asing dan kita pun
akan jadi republik pengemis yang tetap bergantung pada bantuan negara
lain karena keteledoran pemimpin kita di masa lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar